PENGELOLAAN KONFLIK DAN
PRODUKTIVITAS GURU
Konflik,
dalam ukuran dan intensitas yang berbeda-beda, hampir selalu ada di dalam sebuah
organisasi termasuk organisasi sekolah. Kenyataan ini tidak dapat dielakkan
karena terdapat banyak sekali potensi
konflik yang ada di sekolah. Beberapa potensi konflik yang dapat berubah
menjadi konflik di antaranya adalah perbedaan kewenangan/kekuasaan, perbedaan
akses terhadap sumber daya, perbedaan karakter masing-masing warga sekolah
(kepala sekolah, guru, staf TU, penjaga, dan siswa), perbedaan pemahaman akan
visi dan misi sekolah, serta perbedaan etos kerja warga sekolah.
Keberadaan
konflik sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan selama konflik tersebut bersifat
produktif, yakni membantu terlaksananya
upaya-upaya warga sekolah untuk mencapai tujuan. Ketika masing-masing pihak
yang berkonflik bersaing untuk menunjukkan keunggulannya dalam
melaksanakan tugas, itu merupakan konflik
yang produktif. Masing-masing pihak yang berkonflik akan lebih bersemangat
melaksanakan tugas-tugas mereka dengan
intensitas kerja yang melebihi kebiasaan. Namun demikian, jika yang terjadi adalah
terhambatnya kinerja dan produktivitas warga sekolah untuk mencapai tujuan karena munculnya sebuah
konflik, maka konflik tersebut adalah konflik yang kontra-produktif. Konflik
yang kontra-produktif antara lain ditandai dengan munculnya ketidaknyamanan
masing-masing pihak yang berkonflik dalam melaksanakan tugas-tugas mereka.
Ketidaknyamanan itu dapat berupa rasa saling curiga berlebihan antara satu
pihak yang berkonflik dengan pihak lainnya; munculnya keengganan untuk
melaksanakan tugas-tugas sekolah; bahkan
timbul upaya saling menjegal antar pihak yang berkonflik dalam melaksanakan
tugas sekolah.
Bila
konflik telah terjadi, lalu apa yang seyogyanya dilakukan oleh pimpinan sekolah? Terdapat beberapa hal yang
dapat dilakukan pimpinan sekolah untuk membuat konflik menjadi produktif. Pertama,
pimpinan sekolah mengingatkan semua pihak yang berkonflik pada tujuan
sekolah yang lebih tinggi (superordinate goals). Dengan demikian,
antar pihak yang berkonflik menyadari
bahwa kinerja yang mereka lakukan saling
terkait dan dapat memberikan manfaat pada pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Kedua, pimpinan sekolah melakukan upaya
pemecahan masalah (problem solving) bersama dengan pihak-pihak yang berkonflik. Pertemuan tatap muka antar pihak-pihak tersebut untuk
mencari solusi bersama dalam lingkup pengerjaan tugas-tugas sekolah sebagai upaya
menjaga produktivitas organisasi sekolah. Ketiga, pimpinan sekolah melakukan perluasan
sumber daya (expansion of resources)
yang menjadi potensi konflik sehingga semua pihak yang berkonflik dapat
mengakses sumber daya tersebut. Sumber daya yang dimaksud dapat berupa
posisi/jabatan khusus, uang, ruangan, fasilitas, dan lain-lain. Keempat, perintah dari yang berwenang (authoritative command) dapat dilakukan
dengan mengundang pihak yang berwenang tersebut untuk memberikan perintah yang
otoritatif kepada semua pihak, termasuk pihak-pihak yang berkonflik.
Konflik yang dikelola secara produktif
tentu akan mendorong warga sekolah terutama guru-guru untuk lebih produktif
dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di sekolah. Kegairahan kerja akan
tetap terjaga manakala pimpinan sekolah dapat mengelola konflik yang muncul
dengan baik. Kejelasan aturan main dan konsistensi dalam penegakkan aturan sekolah
merupakan salah satu faktor yang memudahkan pimpinan sekolah untuk dapat
mengelola konflik dengan baik dan produktif.
Jadi, silahkan berkonflik, namun
jaga agar tetap produktif!